Sabtu, 16 Juli 2011

Patologi Plasenta

PENYAKIT SERTA KELAINAN PADA PLASENTA


Kelainan bentuk dan bobot plasenta
Bentuk plasenta yang normal ialah ceper dan bulat, dengan diameter 15-20 cm dan tebal 1,5-3 cm, berat kurang lebih 500 gram.  Kadang-kadang ditemukan plasenta yang kecil pada wanita dengan tekanan darah diastolik 100 mm Hg seperti pada preeklamsi berat.
Plasenta yang besar dan berat ditemukan pada erythroblastosis foetalis dan sifilis sehingga perbandingan dengan bayi jadi 1: 3.  Disamping bentuk yang normal kita dapat menemukan berbagai variasi, misalnya plasenta terdiri dari dua bagian yang dipisahkan oleh selaput ketuban dan disebut plasenta bipartita, bilobata atau plasenta dupleks.  Bila di samping plaenta yang besar di temukan pula plasenta kecil di sebut plasenta suksenturiata.  Antara keduanya dihubungkan dengan pembuluh-pembuluh darah.  Plasenta tambahan ini mungkin dapat tertinggal pada pelepasan plasenta dan menyebabkan perdarahan.  Kita dapat menyangka adanya plasenta suksenturiata dengan memeriksa selaput janin.  Bila terdapat lubang pada selaput janin dekat plasenta dan pada pinggir lubang tersebut ditemukan pembuluh-pembuluh darah yang terkoyak kita harus curiga akan adanya plasenta tambahan.  Bila antara kedua plasenta tidak di temukan pembuluh darah disebut plasenta spuria.  Kelainan bentuk lain ialah plasenta plasenta membranasea, dimana plasenta itu tipis dan lebar, kadang-kadang menutupi seluruh ruang kavum uteri.
Plasenta membranasea dapat menyebabkan perdarahan antepartumdan memberi kesulitan pada kala III karena plasenta itu tipis dan sukar terlepas.  Plasenta sirkumvalata adalah plasenta yang pada permukaan fetalis dekat pinggir terdapat cincin putih.  Cincin ini menandakan pinggir plasenta, sedangkan jaringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh ke samping di bawah desidua.  Jadi bukan villus pancang.  Di duga bahwa chorion frondosum terlalu kecil dan untuk mencukupi kebutuhan, villi menyerbu ke dalam desidua diluar permukaan frondosum, plasenta jenis ini tidak jarang terjadi.  Isidensinya lebih kurang 2-18%. Beberapa ahli mengatakan bahwa plasenta sirkumvalata sering menyebabkan abortus dan solutio plasenta.  Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta, disebut plasenta marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput sehingga plasenta lahir telanjang.  Tertinggalnya selaput ini dapat menyebabkan perdarahan dan infeksi.  Diagnosis plaenta sirkumvalata baru dapat ditegakan setelah plaenta lahir, tetapi dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea.



Kelainan implantasi
Plasenta biasanya melekat pada dinding belakang atau depan rahim dekat fundus.  Jonjot-jonjot menyerbu ke dalam dinding rahim hanya sampai lapisan atas dari stratum spongiosum.  Kalau implantasinya rendah, yaitu disegmen bawah rahim dan menutup sebagian atau seluruh ostium internum maka disebut sebagai plasenta previa (prae=depan, vias=jalan ), jadi artinya di depan jalan lahir atau menutup jalan lahir.  Kalau jonjot-jonjot tersebut menyerbu ke dalam dinding rahim lebih dari batas, maka disebut plasenta akreta. Menurut dalamnya penetrasi dinding rahim plasenta akreta di bagi dalam : plasenta akreta, jonjot menembus desidua sampai berhubungan dengan miometrium ; plasenta inkreta, jonjot sampai ke dalam lapisan miometrium; plasenta perkreta, jonjot-jonjot menembus miometrium sehingga mencapai perimetrium.  Plasenta akreta ada yang komplit dimana seluruh permukaan plasenta melekat dengan erat kepada dinding rahim dan ada juga yang persial, dimana perlekatan hanya terjadi dibeberapa tempat saja.
Plasenta akreta dapat menimbulkan penyulit pada kala III, karena sukar dilepaskan dan waktu melakukan tindakan pelepasan secara manual harus hati-hati, karena dapat menyebabkan perforasi.
Penyakit-penyakit pada plasenta
Infrak plasenta. Yang dimaksud dengan infrak plasenta adalah bagian-bagian yang berwarna keputihan, noduler dan keras yang terletak baik pada permukaan fetal, maternal atau kedua-duanya. Terjadinya infrak mungkin disebabkan karena periarteretis atau endarteritis pembuluh-pembuluh darah vili, kemudian terjadi nekrosis pada stroma dan dinding vili serta pembekuan darah dalam ruang interviller.
Ada beberapa jenis infrak plasenta, antara lain : 1). Infrak subkorial seperti pada plasenta marginata atau sirkumvalata; 2). Infrak noduler pada permukaan fetal; jenis ini biasanya tidak mempunyai arti klinis; 3). Infrak yang luas dan tebal dari kotiledon. Dalam hal ini bisa terjadi gangguan nutrisi, sehingga janin lahir dengan berat badan yang lebih kecil (small for date) atau mati dalam kandungan.
Klasifikasi pada plasenta
Sebagai manifestasi proses penuaan dari plasenta terjadi penimbunan garam-garam kalsium seperti kalsium karbonat, kalsium fosfat bercampur dengan magnesium fosfat pada permukaan basal dari plasenta.  Klasifikasi tersebut terletak pada bagian atas desidua baalis terutama sekitar tertanamnya villi, yang sebelumnya telah mengalami degenerasi fibrin.  Kelainan ini tidak mempunyai arti klinik hanya dapat di gunakan sebagai penentuan lokasi plaenta secara radiologik
Tumor Plasenta
Yang termasuk tumor plasenta adalah mikosoma fibrosum, hemangionoma, korioangioma, mola hidatidosa dan kariokarsinoma.  Sepertiga dari dari tumor plaenta berkaitan dengan hidramnion dan prematuritas sehingga angka kematian perinatal tinggi
Disfungsi plasenta
Yang dimaksud dengan disfungsi plasenta adalah keadaan di mana plasenta, baik secara aanatomik maupun fisiologik tidak mampu untuk memberi makan dan oksigenkepada fetus juga untuk mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan secara normal.  Dalam bidang perinatologi hal ini disebut inufisiensi plasenta.  Hal ini dapat menyebabkan gangguan pada bayi dalam bentuk fetal dismaturity atau intra  uterine growth retardation sehingga menghasilkan small for date baby atau kematian intra uterin.  Bayi small for dates tidak mempunyai vernix casseosa sehingga tampak kering, kurus, berkeriput dan lapisan lemak yang tipis.  Karena kekurangan O2, terjadi pengeluaran mekonium sehingga tampak warna kuning pada kulit, tali pusat dan selaput janin.  Disfungsi plasenta pada umumnya terjadi pada kehamilan dengan resiko tinggi seperti diabetes, hipertensi pada kehamilan, penyakit jantung, serotinus.  Pada kelompok ini perlu diadakan pemantauan janin dalam uterus dengan pemeriksaan estriol, HCG, HPL, ultrasonografi, sterss test, non stress  test, kardiotokografi dan lain-lain.  Hubungan serotinus dan disfungsi plasenta masih kontroversial.  Sebagian besar serotinus lahir normal, tetapi di Inggris di anggap berbahaya karena berkurangnya pemasokan oksigen bagi janin secara tepat.  Mereka melakukan induksi persalinan dan bila tidak berhasil dilakukan persalinan seksio sesarea.  Greenhill menyarankan partus spontan dengan pemantauan yang ketat.